Kehidupan Programmer

Apakah Programmer itu “No Life”

Kali ini aku akan mencoba berbagi tentang kehidupan  programmer. Kadang ada bilang kalau programmer “no life” ga bisa punya kehidupan,lembur terus, ga bisa kaya. Terus ada yang nyeletuk “ ga usah jadi programmer” atau yang jadi programmer jadi pesimis sama pekerjaannya. Kalau kalian baca postku aku harap kalian bisa lebih terbuka lagi pandangannya tapi harus baca sampe akhir.

Belajar Terus ?

Jelas harus belajar terus karena perkembangan IT sangat cepat dibanding bidang lain tapi tutorial ada banyak di internet dan kebanyakan yang paling baru bahasa Inggris jadi lebih baik kalau kita bisa mengerti bahasa Inggris. Aku pribadi ngerasa  ga boleh puas hanya karena skillku sekarang sudah cukup untuk memenuhi tuntutan kantor. Aku selalu melihat perkembangan IT dan kebutuhan pasar untuk cari tahu apa yang bagus untuk dipelajari  supaya kedepannya aku bisa dapat penawaran yang lebih tinggi lagi.

Kerja Tetap 8 Jam atau Fleksibel

Aku pribadi lebih pilih jam kerja tetap karena kalau jam kerja fleksibel aku punya resiko kerja lebih dari jam kerja karena biasanya kita diberi jam kerja fleksibel asal bisa nyelesein pekerjaan dan di sini gak ada batasan beban kerja dan jam kerjanya.  Karena aku udah nikah jadi aku pingin lebih teratur dan gak bawa pulang pekerjaan.

Menurut Undang-Undang jam Kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, dapat dilaksanakan siang hari dan/atau malam hari. Jam Kerja bagi para pekerja di sektor swasta diatur dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85.

Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telas disebutkan diatas yaitu:

  • 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1  minggu; atau
  • 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja/buruh berhak atas upah lembur.

Kalau udah kerja lebih dari 8 jam dan tidak dihitung lembur ya itu “no life” dan lembur itu juga bukan kewajiban. Kalian bisa cari tahu tentang ini di info lowongan kerja atau tanya langsung waktu wawancara. Kadang ada yang mencantumkan syarat “bersedia lembur” dan sejenisnya.

Banyak Lembur ?

Biasanya programmer lembur kalau udah mendekati deadline. Tapi ternyata gak semua perusahaan selalu lembur  karena itu juga  tergantung managemen waktu dari projek manager. Kalau kata bosku “lembur itu bukti kalau desain dan schedulenya jelek” dan memang di sini ga pernah lembur.  Aku nyari pekerjaan yang sekarang emang yang ga ada lembur biar bisa seimbang pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kalau udah jam 5 yaudah lanjut besok, pulang kerja ga ada kerjaan yang dibawa pulang. Hari libur juga ga pernah lagi dipake kerja. Ga semua  “Programmer No Life” kok, masih banyak perusahaan IT/Software House yang managemen waktunya bagus.  Ini bisa kita tanyain waktu wawancara kerja.

Ada juga programmer yang memilih bekerja lembur karena lebih konsentrasi dan produktif bila bekerja di malam hari tapi kalau punya pacar atau keluarga gimana ya bagi waktunya?

Gaji Sedikit?

Gaji programmer tergantung banyak faktor sih, salah satunya lokasi, misalnya di Jogja freshgraduate mungkin mulai dari 2jt sedangkat di Jakarta mungkin 4jt. Selain itu pasti tergantung kemampuan/skill kita. Faktor berikutnya itu perusahaannya, biasanya standar dan kemampuan perusahaan mungkin beda-beda. Gaji programer dengan tahun pengalaman yang sama bisa beda juga karena rate bahasa pemrograman juga berbeda-beda. Aku sendiri gak pernah membatasi diri untuk belajar bahasa pemrograman yang lain apa lagi kalau dibayar untuk belajar.

Masa Depan?

Aku setuju kalau pekerjaan pertama yang terpenting adalah pengalaman yang akan kita dapat.  Setelah survei aku putusin buat cari kerja di jabodetabek supaya dapat gaji dan ilmu yang lebih bagus walaupun “berat”  tapi menurutku itu yang terbaik buatku  dan ada alasan kuat yang lain. Kalau aku cuma mau main-main, happy-happy pasti aku pilih di jogja karena ada pacar dan banyak temen.  Waktu itu aku masih tinggal di rumah dan daftar, tes, wawancara secara online. Lalu dapatlah aku kerjaan pertama, pekerjaan pertama itu berarti banget buat aku karena dari pengalaman itu aku bisa dapet kerja di tempat baru sekarang.

Kalau menurutku masa depan programmer itu tergantung kita sendiri. Jenjang karir atau kenaikan gaji itu akan sesuai sama harapan kita asal skill kita sesuai, caranya? Selalu belajar dan terbuka sama kesempatan baru dan kalau belum ada tawaran kita sendiri juga bisa mencari kesempatan baru itu. Aku sendiri termasuk gak anti kutu loncat walaupun menurutku tetep jangan cepet-cepet banget pindahnya. Sah-sah aja kalau orang mau mencari kesempatan yang lebih baik dalam hal tantangan kerja dan juga gaji tentunya, apalagi kalau emang ada opportunity yang bagus. Jaman sekarang udah gak terlalu jaman stay di company just for the sake of being loyal or something like that.

Harapan aku pastinya kita semua bisa sukses bareng dan tahu kalau programmer itu gak harus “no life”. Jadi kamu pengen jadi programmer yang gimana?  

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Bung Karno

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *